Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh… Halo semesta!

Bagaimana kabarmu? Semoga selalu bahagia dengan segala ketentuan terbaik dariNya ya.

Liburan akhir tahun nampaknya sudah menjadi agenda rutin sebagian besar dari kita, khususnya bagi para pekerja, dan aku salah satunya πŸ™‚ Setiap hari menjalani rutinitas di kantor selama kurang lebih 8-10 jam, cukup membuat penat juga.

Setelah disibukan dengan revisi dan deadline, aku memutuskan untuk membayar hasil kerja kerasku dengan liburan. Tema liburan kali ini adalah menepi dari segala hiruk-pikuk kota dan segala kepenatannya. Aku memilih Situ Gunung sebagai destinasi liburan kali ini.

Sekilas tentang Situ Gunung

Situ Gunung merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang berlokasi di Kadudampit Sukabumi Jawa Barat. Situ Gunung memiliki camping ground yang cukup luas dengan fasilitas yang lumayan lengkap (warung makan, toilet umum, dan mushola). Selain itu, di kawasan wisata ini juga terdapat air terjun dan danau.

Berangkat

24 Desember 2016

Sabtu pagi pukul 06.46 WIB aku berangkat menggunakan Kereta Commuter Line dari Stasiun Rawa Buaya menuju Stasiun Bogor. Sesampainya di Stasiun Bogor aku langsung menemui teman-teman perjalanananku. Karena perjalanan yang akan kami tempuh lumayan panjang, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.

Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan dengan menyewa angkutan umum dari Stasiun Bogor. Berdasarkan kesepakatan di awal harga sewa yang harus kami bayar adalah Rp350ribu, tapi kenyataannya si supir meminta lebih, jadi Rp550ribu 😦

Kami terpaksa memilih sewa angkot karena tiket Kereta Api Pangrango tujuan Sukabumi sudah ludes terjual sejak seminggu yang lalu. Sedangkan angkutan umum trayek Bogor-Sukabumi, elf L300 berada di Terminal Baranangsiang, artinya untuk sampai di terminal kami harus naik angkutan umum AK 03 terlebih dulu. Selain itu, elf L300 hanya membawa kami sampai Pertigaan Cisaat, jadi untuk sampai Situ Gunung harus nyambung angkutan umum lagi.

Perjalanan Bogor-Sukabumi benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam. (Hehehe maaf sedikit lebay). Long weekend di musim liburan sekolah membuat jalanan cukup padat. Untuk menghindari macet, pak supir memilih jalan alternatif. Kami sebagai penumpang yang tidak tahu arah menurut saja, yang penting sampai tujuan dengan selamat. Mobil yang kami tumpangi menelusuri jalan kecil (hanya cukup untuk satu mobil) yang berliuk-liuk dan menanjak. Tidak jarang kami harus turun dan mendorong mobil karna tanjakan yang ekstrim.

Di tengah perjalanan pak supir mulai kehilangan arah. Akhirnya kami pun menggunakan aplikasi google maps. Ternyata aplikasi buatan manusia ini tidak cukup untuk diandalkan untuk menjadi satu-satunya penunjuk arah karena bahaya tersesat selalu mengintai πŸ˜€

Penunjuk arah membawa kami sampai di suatu tempat dengan akses jalan yang sangat sempit, hanya cukup untuk sepeda motor dan pejalanan kaki. Karena buta arah, kami bertanya pada warga sekitar.

Kurang lebih 1 KM sebelum sampai di lokasi, mobil yang kami tumpangi mogok. Sambil menunggu pak supir mencoba menghidupkan mesin mobilnya kami menunaikan shalat dzuhur dan ashar. Kebetulan di sekitar lokasi terdapat masjid. Setelah shalat kami menemui pak supir, beliau menuturkan bahwa mesin mobilnya kehabisan oli dan harus diderek. Dengan sangat terpaksa ia tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk mengantar kami ke Situ Gunung 😦 Ini yang menjadi alasan beliau meminta harga sewa lebih tinggi dari harga kesepakatan di awal. Beruntung ada warga yang menawarkan diri untuk mengantar kami sampai lokasi dengan mobil bak terbukanya. Alhamdulillah, pertolongan Allah selalu datang di waktu yang tepat πŸ™‚



Setibanya di Lokasi

img_1592

Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam, akhirnya kami sampai juga. Untuk masuk ke kawasan wisata ini kami harus membeli tiket. Karena Bapak yang mengantar kami adalah warga setempat jadi kami dapat harga khusus Rp20rb perorang, harga seharusnya Rp27.500. Lumayan πŸ™‚

Tidak jauh dari gerbang masuk terdapat warung makan. Karna perut sudah lapar, kami pun langsung melangkah ke sana. Nasi goreng seharga Rp15 ribu per porsi menjadi pilihan kami. Rasanya lumayan apalagi disantap saat perut benar-benar lapar.

Sehabis makan di warung

Waktunya Berkemah

Setelah mendirikan tenda
Karena hari sudah sore rencana ke Curug Sawer pun dibatalkan. Kami langsung menuju camping ground untuk mendirikan tenda, masak untuk makan malam, makan bersama, membuat api unggun dan bercengkrama dalam kehangatan.

Pakai jas hujan karena gerimis
Langit malam ini cukup gelap. Beberapa kali hujan ringan turun. Bintang-bintang hanya sesekali saja muncul kemudian menghilang. Tapi tidak mengurangi sedikit pun kedamaian malam ini karena aku benar-benar merindukannya. Jauh dari kebisingan, minim distraksi, waktu yang berjalanan perlahan, minim polusi cahaya, udara dingin, kehangatan api unggun, suara jangkrik, serta bau rerumput dan dedaunan, ‘Maka nikmat Allah mana yang kamu dustakan?’

Malam kian larut dan hujan ringan kembali mengguyur. Aku memutuskan menyudahi malam ini. Masuk ke dalam tenda, menyusul teman-teman lain yang sudah lebih dulu terlelap dalam tidurnya.

Danau Situ Gunung

Setibanya pagi menjelang, setelah menunaikan solat subuh, kami menuju lokasi danau untuk melihat sunrise. Dari lokasi perkemahan kami menyusuri jalan yang cukup landai sepanjang 1 km untuk menuju Danau Situ Gunung.

Meski pagi ini mendung dan matahari tertutup awan yang cukup tebal, pemandangan pagi ini cukup menyegarkan mata yang sudah lelah memandangi monitor setiap harinya. Alhamdulillah… Bahagia πŸ˜€

Setelah puas mengabadikan diri dengan kamera ponsel di setiap sudut tempat ini, kami kembali ke area perkemahan, masak untuk sarapan, packing, dan bersih-bersih.

Sebelum pulang take photo dulu di depan tenda

Perjalanan Pulang

Pukul 9.30 WIB kami turun dari area perkemahan. Biasanya di pintu gerbang ada angkutan umum yang sudah stand by menunggu penumpang. Jika tidak ada kita bisa meminta bantuan petugas yang berjaga. Harga sewa angkutan umum sampai ke Stasiun Cisaat Rp100ribu (harga mungkin bisa berubah sewaktu-waktu).

Perjalanan pulang dilanjutkan dengan Kereta Api Pangrango sampai ke Stasiun Bogor Palegan (FYI: stasiun ini berada di sebrang Stasiun Bogor). Kemudian kami berjalan kaki menuju Stasiun Bogor untuk melanjutkan perjalanan menggunakan Commuter Line dengan tujuan rumah masing-masing.

 

Terima kasih Situ Gunung πŸ™‚ Walau pertemuan kita cukup singkat, namun sangat berkesan.

Sampai di sini dulu ya. Salam untuk kamu dan kalian semua di mana pun kalian berada. Sampai jumpa dalam edisi liburan selanjutnya.
Ms. R
Sekedar informasi tambahan untuk para pembaca, semoga bermanfaat πŸ™‚

  1. Untuk kenyamanan sangat disarankan menggunakan kereta api Panggrango. Selain murah (Rp25 ribu untuk kelas ekonomi, Rp60 ribu untuk kelas eksekutif) juga efisien waktu. Silakan pesan tiket jauh-jauh hari supaya tidak kehabisan.
  2. Disarankan untuk membawa tenda sendiri karena persediaan tenda yang disewakan di sana terbatas.
  3. Matras dapat disewa di lokasi dengan harga Rp10rb per matras.
  4. Untuk membuat api unggun, kita dapat membeli kayu bakar seharga Rp40 ribu perikat.
  5. Ada pilihan lain untuk bermalam mulai dari perkemahan eksklusif di Tanakita Campsite (tenda, kasur, makan-minum, air hangat untuk mandi disiapkan pengelola) sampai penginapan seperti villa.
  6. Budget < 200rb perorang dengan rincian sebagai berikut: Krl ke St. Bogor 6rb; sewa angkot 55rb; tiket masuk 20rb; sewa angkot ke St. Cisaat 10rb; tiket kereta pangrango 25rb; krl pulang 6rb; sewa tenda & matras 25rb; api unggun 4rb. (Di luar makan dan perbekalan, dg perhitungan sharing cost 10 orang).

Silakan menikmati video-video kami πŸ™‚